Batam-(RempangPost.Com) – Pertumbuhan investasi dan pembangunan kawasan industri di Batam diprediksi bakal mengerek kebutuhan listrik dalam beberapa tahun ke depan. Masuknya investasi pusat data atau data center menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan energi di Batam diproyeksikan terus melonjak.
PT PLN Batam memperkirakan kebutuhan listrik Batam pada 2031 bisa mencapai 2.009 megawatt (MW) atau sekitar 2 gigawatt (GW). Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang harus disiapkan untuk memastikan pasokan listrik tetap tersedia dan andal seiring ekspansi ekonomi Batam.
“Pertumbuhan wilayah tidak bisa menunggu listrik tersedia setelah kawasan tersebut berkembang. Justru kami berusaha mendahului pertumbuhan,” kata Manager Communication PT PLN Batam Yoga Perdana dalam sesi wawancara podcast.
Menurut Yoga, listrik saat ini tidak lagi sekadar kebutuhan dasar masyarakat. Energi listrik telah menjadi salah satu roda penggerak pertumbuhan sebuah wilayah, terutama bagi daerah yang tengah agresif mengembangkan industri dan investasi seperti Batam.
Selain listrik, ketersediaan air dan akses infrastruktur juga menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat maupun investor dalam menentukan lokasi tempat tinggal ataupun mengembangkan usaha.
Karena itu, PLN Batam berupaya melakukan perencanaan sejak awal dengan memprediksi kebutuhan listrik sebelum pertumbuhan kawasan dan investasi benar-benar terjadi.
Yoga mengatakan, proyeksi kebutuhan listrik hingga 2031 dipengaruhi sejumlah faktor, terutama pertumbuhan ekonomi dan perkembangan investasi. Salah satu investasi yang menjadi perhatian adalah pembangunan data center yang membutuhkan daya listrik dalam jumlah besar.
Bahkan, kebutuhan listrik sebuah data center dalam kondisi tertentu bisa sangat besar hingga setara dengan beban listrik satu kota Batam.
“Bahkan satu data center bisa membutuhkan daya yang setara dengan beban listrik satu kota Batam,” ujarnya.
Jika pembangunan data center terus bertambah, kebutuhan listrik Batam otomatis akan meningkat signifikan. Kondisi tersebut harus diikuti dengan penambahan kapasitas pembangkit, penguatan jaringan, serta kesiapan sistem penyaluran.
Dengan memperhitungkan perkembangan investasi dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan listrik Batam pada 2031 diperkirakan mencapai 2.009 MW. Proyeksi tersebut menjadi bagian dari perencanaan PLN dalam menyiapkan energi untuk menopang pertumbuhan Batam.
Yoga menjelaskan, PLN memiliki Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebagai instrumen untuk memproyeksikan kebutuhan sekaligus menyiapkan penyediaan listrik.
Perencanaan tersebut tidak hanya mengacu pada kondisi saat ini, tetapi juga memperhitungkan potensi pertumbuhan ekonomi, perkembangan kawasan, hingga investasi yang masuk ke Batam.
Meski demikian, RUPTL bukan perencanaan yang bersifat kaku. Penyesuaian tetap dapat dilakukan apabila realisasi investasi bergerak lebih cepat dibandingkan proyeksi awal.
“Misalnya tahun depan ada investasi besar yang masuk lebih cepat dari perkiraan, maka PLN harus menyesuaikan kembali perencanaannya,” jelas Yoga.
Di tengah proyeksi kebutuhan 2.009 MW pada 2031, beban listrik Batam saat ini juga terus mengalami peningkatan.
Cuaca panas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir turut mendorong konsumsi listrik masyarakat. Penggunaan kipas angin dan pendingin ruangan yang meningkat membuat beban sistem ikut terkerek.
Yoga menyebut beban puncak yang biasanya berada di kisaran 750 MW, dalam kondisi tertentu telah menyentuh sekitar 780 MW.
Meski beban terus meningkat, ia memastikan kondisi sistem kelistrikan Batam saat ini masih aman. PLN Batam masih memiliki cadangan daya sekitar 80 hingga 100 MW yang dapat digunakan untuk menjaga keandalan pasokan ketika terjadi lonjakan beban.
“Sejauh ini Alhamdulillah masih aman. Sistem masih mampu meng-cover kebutuhan tersebut,” katanya.
Bahkan ketika salah satu pembangkit mengalami gangguan beberapa waktu lalu, sistem kelistrikan masih dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan gangguan besar terhadap pelanggan.
PLN Batam juga menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan gangguan pembangkit maupun pasokan energi primer.
Yoga mengatakan sistem kelistrikan merupakan infrastruktur yang kompleks sehingga potensi gangguan tetap ada. Karena itu, setiap kemungkinan harus diantisipasi dengan skenario penanganan yang terukur.
“Kalau bicara kemungkinan, tentu selalu ada. Tetapi setiap kemungkinan tersebut harus memiliki mitigasi,” tegasnya.
Mitigasi dilakukan dengan menyiapkan alternatif sumber energi apabila terjadi gangguan pasokan bahan bakar maupun pembangkit. PLN juga memiliki sistem pemulihan atau recovery ketika terjadi gangguan besar.
Menurut Yoga, penanganan tidak hanya berfokus pada sumber gangguan, tetapi juga bagaimana mempercepat pemulihan agar pasokan listrik kembali normal dalam waktu sesingkat mungkin.
Dalam kondisi tertentu, sekitar 70 hingga 80 persen sistem dapat dipulihkan lebih cepat, bahkan dalam waktu sekitar dua jam.
Pertumbuhan data center tidak hanya meningkatkan kebutuhan daya, tetapi juga menuntut tingkat keandalan pasokan yang lebih tinggi. Fasilitas tersebut membutuhkan listrik yang stabil dan minim gangguan karena operasionalnya sangat bergantung pada kontinuitas energi.
Untuk pelanggan dengan kebutuhan khusus, PLN dapat menyediakan layanan dengan tingkat keandalan lebih tinggi melalui layanan premium.
Untuk data center, pasokan dapat disiapkan melalui minimal dua sumber atau jalur. Dengan skema tersebut, apabila salah satu jalur mengalami gangguan, pasokan dapat dialihkan melalui jalur lainnya.
“Data center memiliki tuntutan keandalan yang sangat tinggi karena mereka tidak boleh mudah mengalami gangguan,” kata Yoga.
Layanan dengan tingkat keandalan lebih tinggi tersebut memiliki tarif berbeda karena membutuhkan tambahan layanan dan kesiapan sistem dibandingkan pelanggan reguler.
Di sisi lain, Yoga turut menanggapi keluhan masyarakat terkait meningkatnya tagihan listrik dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, kenaikan tagihan tidak otomatis menunjukkan adanya kenaikan tarif listrik. Jika terjadi perubahan tarif, kebijakan tersebut akan disampaikan secara resmi kepada masyarakat melalui mekanisme yang berlaku.
Ia menjelaskan, penyesuaian tarif juga mempertimbangkan sejumlah indikator ekonomi, seperti nilai tukar, inflasi, dan harga energi primer.
Karena itu, kenaikan tagihan yang dirasakan masyarakat bisa saja disebabkan meningkatnya konsumsi listrik. Terutama saat cuaca panas yang mendorong penggunaan kipas angin dan pendingin ruangan lebih lama.
Dengan kebutuhan listrik yang diproyeksikan mencapai 2.009 MW pada 2031, PLN Batam kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan pertumbuhan investasi, termasuk ekspansi data center, berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur kelistrikan.
Pasokan listrik yang cukup dan andal menjadi salah satu kunci agar Batam tetap mampu menarik investasi sekaligus menjaga laju pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. (*)












