Setelah Cetak Rekor, IHSG Terkoreksi Tajam: Investor Kompak Ambil Untung

banner 120x600

Jakarta-(RempangPost.Com)-Pasar saham Indonesia kembali bergerak fluktuatif dalam sepekan terakhir. Setelah sempat menembus level 8.100-an, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan menutup perdagangan pada posisi 7.915,66 poin. Koreksi sekitar 2,5% tersebut tidak menandai tren pelemahan permanen, melainkan mencerminkan terjadinya fenomena klasik dalam dunia investasi, yakni profit taking atau aksi ambil untung oleh investor.

Fenomena profit taking muncul ketika harga saham telah menguat signifikan dan investor memilih merealisasikan keuntungan yang sebelumnya hanya berada “di atas kertas”. Aksi jual serentak ini memberi tekanan jangka pendek pada harga saham, namun dianggap sebagai mekanisme sehat yang menjaga agar pasar tidak bergerak di luar nilai wajar.

Pada awal Oktober, ketika IHSG sempat melewati level 8.100 poin, sejumlah pelaku pasar memanfaatkan momentum tersebut untuk mencairkan cuan, khususnya pada saham-saham perbankan besar, material, serta industri dasar. Tekanan jual yang meningkat dengan cepat membuat IHSG terkoreksi, meski sentimen ekonomi nasional tetap positif.

Bagi investor pemula, koreksi akibat profit taking kerap memicu kekhawatiran berlebihan. Padahal, menurut analis, fase penyesuaian seperti ini merupakan bagian normal dari dinamika pasar. Selama tidak ada perubahan signifikan dalam fundamental perusahaan, penurunan harga justru dapat menjadi peluang untuk mengakumulasi saham pada level yang lebih rendah.pada Selasa (25/11/2025)

Profit taking juga mencerminkan kedewasaan pasar modal Indonesia. Di negara dengan investor yang lebih matang, fluktuasi seperti ini dianggap wajar dan bahkan sehat karena mencegah terjadinya gelembung harga (bubble). Koreksi memungkinkan pasar menemukan kembali titik keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Di tengah kondisi ini, para analis menyarankan investor ritel untuk tetap fokus pada fundamental perusahaan dan prospek jangka panjang. Menetapkan target keuntungan serta batas risiko sejak awal dinilai mampu membantu investor membuat keputusan yang lebih rasional dan menghindari aksi jual panik.

Koreksi IHSG di akhir Oktober disebut sebagai pengingat bahwa profit taking merupakan bagian alami dari perjalanan pasar. Setelah setiap aksi ambil untung, peluang baru kerap muncul bagi investor yang sabar dan disiplin dalam strategi investasinya.(San)

 

 

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *