Batam Bidik Investor Pengelolah Limbah,Tiru Strategi Emas Kek Batang

banner 120x600

Batam-(RempangPost.Com)- Pembangunan pabrik pengolah limbah elektronik dan plastik senilai Rp3 triliun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, menjadi contoh sukses yang patut ditiru daerah lain, termasuk Kota Batam.

Dengan posisi strategis dan dukungan kawasan industri yang luas, Batam dinilai memiliki potensi besar untuk menarik investor di bidang pengolahan limbah, terutama limbah elektronik dan plastik yang volumenya terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan sektor industri.

Proyek di KEK Batang itu digarap oleh PT Green Java Solution asal Malaysia bersama PT Maju Selaras Sejahtera, dan dijadwalkan mulai dibangun pada akhir 2025. Pabrik tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja, sekaligus menjadi model investasi hijau yang menggabungkan aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Pemerhati lingkungan dan industri Dodi Jufri menilai, Batam seharusnya mampu mengambil langkah serupa.“Batam memiliki daya tarik besar bagi investor. Infrastruktur pelabuhan dan akses internasional sudah siap, tinggal komitmen pemerintah daerah dalam membuka ruang investasi hijau,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurut Dodi, dengan letak geografis yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, Batam sangat berpotensi menjadi pusat eco-industrial zone di wilayah barat Indonesia. Selain mengurangi beban lingkungan, industri pengolahan limbah juga dapat membuka ribuan lapangan kerja baru serta mendorong penerapan ekonomi sirkular.

“Belajar dari Batang, pemerintah daerah bisa menyiapkan lahan dan memberikan insentif bagi investor yang berkomitmen membangun pabrik pengolahan limbah di Batam,” tambahnya.

Kondisi serupa juga dihadapi Batam, di mana volume limbah industri baik elektronik maupun plastik terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, hingga kini pengelolaannya masih mengandalkan kerja sama dengan pihak ketiga, dan belum memiliki industri pengolahan dengan skala besar yang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Menurut Dodi, kegiatan daur ulang sejauh ini tetap aman selama dilakukan oleh perusahaan berizin dan memenuhi standar lingkungan.

“Yang perlu diwaspadai justru limbah ilegal yang dikirim tanpa izin, hanya untuk ditimbun atau dibuang ke laut maupun tanah,” tegasnya.

Terpisah, Direktur PT Batam Battery Recycle Industries, Rizki Firmanda, juga menyuarakan hal senada. Menurutnya, investasi di sektor pengolahan limbah akan membawa manfaat ganda bagi Batam yakni menjaga lingkungan sekaligus mengurangi pengangguran.

“Batam ini masuk peringkat kedua pengangguran tertinggi di Indonesia. Kalau ada investasi baru di bidang daur ulang, otomatis membuka banyak lapangan kerja dan menambah pendapatan daerah,” kata Rizki, yang juga dosen di STISIP Bunda Tanah Melayu.

Rizki, yang lahir dan besar di Batam, menilai kota ini memiliki segala prasyarat untuk menjadi kawasan industri maju seperti Guangzhou, Tiongkok.pada Hari Rabu (12/11/2025)

“Dulu, sebelum maju, pemerintah Guangzhou sempat belajar ke BP Batam saat masih dipimpin Pak Ismeth Abdullah. Sekarang mereka jauh berkembang. Batam juga bisa, asal tidak terhambat kepentingan pihak luar,” ujarnya.

Ia menegaskan, sektor pengolahan limbah elektronik di Batam sebenarnya sudah berjalan delapan tahun terakhir dan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Karena itu, menurutnya, aneh jika justru Batam diperlambat sementara daerah lain seperti Jawa Tengah malah membuka investasi besar-besaran dengan Malaysia.

“Ini sangat disayangkan. Batam sudah lebih dulu berjalan, tapi justru mau dihentikan. Padahal daerah lain baru memulai,” tegasnya.

“Kalau pemerintah daerah fokus, ini bisa jadi potensi besar. Akses kita jauh lebih mudah dibanding Jawa Tengah, dan sama-sama punya status KEK.”

Rizki menambahkan, perusahaannya siap mengikuti seluruh regulasi pemerintah dan menjalankan tanggung jawab sosial (CSR) bagi masyarakat sekitar.“Kami siap mengikuti aturan yang berlaku, mendukung investasi yang baik dan benar, serta memprioritaskan tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah lebih jeli melihat peluang besar ini.“Batam seharusnya jadi tolak ukur nasional bahkan internasional karena berada di perbatasan. Jangan sampai tertinggal lagi seperti dulu. Kami siap bekerja sama dan mendukung kebijakan pemerintah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” tegasnya.(HK)

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *