Batam-(RempangPost.Com)- PT PLN Energi Primer Indonesia memastikan pasokan gas sebesar 111 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) selama 10 tahun dari Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja Duyung, Natuna, Kepulauan Riau. Kepastian tersebut diperoleh setelah proyek resmi mencapai Final Investment Decision (FID).
Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, mengatakan pencapaian FID menjadi langkah strategis untuk memperkuat pasokan energi primer bagi pembangkit listrik, khususnya di Batam dan Sumatra Bagian Tengah.(05/03);
“Dengan tercapainya FID ini, target pasokan gas sesuai Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dapat terpenuhi untuk memastikan pasokan energi bagi kelistrikan di Batam dan Sumatra Bagian Tengah,” ujar Rakhmad dalam keterangannya.
Lapangan Mako yang dioperasikan West Natuna Exploration Limited berada di lepas pantai Natuna dengan kedalaman laut sekitar 80 meter. Proyek tersebut telah melalui proses panjang sejak penandatanganan kontrak kerja sama pada 2007 hingga mencapai keputusan investasi akhir pada 2026.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menilai persetujuan FID menjadi tonggak penting dalam meningkatkan produksi gas nasional.
“Persetujuan FID ini menegaskan kesiapan proyek untuk memasuki tahap konstruksi dan eksekusi penuh dalam upaya peningkatan lifting gas nasional,” kata Djoko.
Ia menjelaskan proyek Lapangan Mako telah melalui sejumlah tahapan penting, mulai dari penemuan gas pada 2017, persetujuan Plan of Development (POD) pada 2019, revisi POD pada 2022, penandatanganan PJBG pada 2025, hingga FID pada 2026.
Produksi gas dari Lapangan Mako ditargetkan mulai berjalan pada 2027 guna memperkuat pemanfaatan gas Natuna untuk kebutuhan energi domestik.
Rakhmad menambahkan kebutuhan listrik di Batam dan Sumatra Bagian Tengah saat ini tumbuh sekitar 12–15 persen per tahun dan sebagian besar dipenuhi pembangkit berbahan bakar gas. Menurutnya, menurunnya pasokan gas dari daratan Sumatra membuat suplai dari Natuna menjadi sangat penting untuk menjaga keandalan sistem energi nasional.
“Pasokan dari wilayah Natuna sangat dibutuhkan untuk mendukung ketahanan energi nasional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat di Batam dan Sumatra Bagian Tengah,” ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur energi, PLN EPI juga tengah membangun pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS)–Pemping untuk menyalurkan gas dari Natuna ke Batam.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI, Erma Melina Sarahwati, mengatakan pembangunan pipa tersebut telah dimulai melalui groundbreaking pada 10 Februari 2026 dan saat ini berjalan sesuai rencana.
“Pipa WNTS–Pemping ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026 dan akan menjadi penghubung penting untuk menyalurkan gas dari wilayah Natuna ke sistem kelistrikan Batam,” ujar Erma.
Ia menambahkan pengembangan infrastruktur gas tersebut sejalan dengan strategi transisi energi nasional yang mendorong pemanfaatan energi lebih bersih, efisien, dan berbasis sumber daya domestik.
“Pengembangan infrastruktur gas ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendukung upaya transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutupnya.(Pret)
Redaksi












